PASURUAN II NAAT -- Tulisan ini kami kutip dari Grup WhatApp Dewan Pengurus Pusat Naqobah ansab auliya Tis'ah (NAAT) yang di share oleh KH Abdul Hamid Mujib Katib Syuriyah DPP NAAT yang merupakan hasil terusan dari tulisan sebelunya, kendati penulis tidak tahu mendapatkan dari siapa dan dimana, yang pasti diawali degan tulisan bahwa sejarawan sejati tidak ada yang mengabaikan dongeng dan legenda, sebab :

  1. Sejarah selalu ditulis oleh penguasa, namun rakyat menceritakan yang sebenarnya lewat dongeng turun temurun (tutur tinular);
  2. Jadi di balik legenda/dongeng sebenarnya ada sejarah;
  3. Legenda/dongeng adalah memori kolektif sebuah bangsa tentang sebuah peristiwa masa lampau yang tidak bisa disampaikan melalui buku, karena pada masa lalu hanya keluarga bangsawan yang bisa membaca dan menulis;
  4. Sebelum manusia mengenal baca tulis, prasasti dan manuskrip disampaikan dalam bentuk dongeng turun temurun.

Contoh dongeng yang menjadi petunjuk sebuah fakta sejarah adalah:

1). Legenda "Aman Remu" dan Tsunami purba di Aceh.

​Selama ratusan tahun, masyarakat di Kepulauan Simeulue memiliki budaya tutur bernama Smong. Ini adalah dongeng/nyanyian tentang air laut yang surut setelah gempa besar dan akan kembali sebagai gelombang raksasa.

​Dongengnya: Nenek moyang mereka menceritakan kejadian "Smong" pada tahun 1907. Dongeng ini mewajibkan orang untuk lari ke bukit jika melihat laut surut.

​Fakta Sejarahnya: Saat Tsunami 2004 terjadi, sementara ribuan orang di daratan Aceh menjadi korban karena tidak tahu tanda-tanda alam, masyarakat Simeulue selamat hampir seluruhnya karena mematuhi "dongeng" tersebut. Penelitian paleotsunami kemudian membuktikan bahwa wilayah tersebut memang memiliki siklus tsunami raksasa yang terekam sempurna dalam memori kolektif mereka.

​2. Legenda "Gunung Tangkuban Parahu" dan Danau Bandung Purba

​Dongeng Sangkuriang yang menendang perahu hingga menjadi gunung sering dianggap sekadar cerita cinta terlarang. Namun, ahli geologi menemukan fakta mengejutkan di baliknya.

​Dongengnya: Sangkuriang membendung Sungai Citarum untuk membuat danau dalam satu malam guna memenuhi syarat perkawinan.

​Fakta Sejarahnya: Penelitian geologi membuktikan bahwa wilayah Bandung dulunya adalah sebuah Danau Purba raksasa yang terbentuk karena aliran Sungai Citarum terbendung oleh lava hasil letusan dahsyat Gunung Tangkuban Parahu purba (Gunung Sunda). Dongeng ini sebenarnya adalah rekaman visual nenek moyang kita tentang proses geologis pembentukan cekungan Bandung yang terjadi ribuan tahun lalu.

​3. Kisah "Ebu Gogo" di Flores dan Homo Floresiensis

​Masyarakat di Flores memiliki legenda turun-temurun tentang Ebu Gogo, makhluk kecil menyerupai manusia, berbulu, dan bisa berjalan tegak yang sering mencuri makanan.

​Dongengnya: Ebu Gogo dianggap makhluk mitis atau hantu hutan oleh para peneliti Barat pada awalnya.

​Fakta Sejarahnya: Pada tahun 2003, arkeolog menemukan kerangka manusia kerdil di Liang Bua, Flores, yang kemudian dinamakan Homo floresienis (sering dijuluki "The Hobbit"). Penemuan ini mengguncang dunia karena membuktikan bahwa pernah ada spesies manusia kecil yang hidup berdampingan dengan manusia modern (Homo sapiens) di Nusantara. Dongeng Ebu Gogo adalah sisa memori kolektif pertemuan fisik nenek moyang kita dengan spesies manusia lain.

​4. Mitologi "Benua Tenggelam" (Sundaland)

​Hampir seluruh suku besar di Nusantara memiliki dongeng tentang "banjir besar" atau nenek moyang yang datang dari arah laut karena tanah lama mereka tenggelam.

​Dongengnya: Nenek moyang datang menggunakan perahu setelah terjadi guncangan hebat dan naiknya air laut.

​Fakta Sejarahnya: Penelitian oseanografi dan paleoklimatologi membuktikan adanya fenomena Sundaland (Paparan Sunda). Sekitar 12.000 hingga 8.000 tahun lalu, akibat berakhirnya Zaman Es, permukaan laut naik drastis dan menenggelamkan daratan luas yang menyatukan Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Ini adalah migrasi besar yang terekam dalam ratusan variasi dongeng lokal di Indonesia.


OLEH: KH. ABDUL HAMID MUJIB (KATIB SYURIYAH NAAT)