<h4> Sejarah Berdirinya Naqobah Ansab Auliya’ Tis’ah (NAAT)</h4> <p>Di balik kemegahan sejarah Islam di Nusantara, terdapat sebuah narasi yang selama berabad-abad tersimpan rapi dalam ingatan kolektif, namun perlahan memudar dalam lembaran dokumentasi: silsilah keturunan Walisongo. Para wali penyebar Islam ini tidak hanya mewariskan ajaran spiritual, tetapi juga dzurriyah (keturunan) yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, mata rantai kekerabatan ini mengalami ujian berat. Banyak keluarga yang kehilangan jejak akar silsilahnya, dokumentasi yang bersifat parsial, hingga terputusnya hubungan antar-bani. Dari keprihatinan mendalam inilah, sebuah gerakan besar lahir. Sebuah organisasi berbadan hukum yang kini dikenal dengan nama Naqobah Ansab Auliya’ Tis’ah (NAAT) hadir sebagai jembatan sejarah untuk menyatukan kembali keluarga dzurriyah Walisongo yang terserak. Benih Keprihatinan: Dari Media Sosial ke Gerakan Nyata Jauh sebelum NAAT resmi terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, bibit-bibit kesadaran ini muncul dari diskusi-diskusi kecil di ruang digital. Sebelum tahun 2017, upaya pencatatan silsilah Walisongo masih dilakukan secara sporadis oleh individu atau organisasi kecil di tingkat bani masing-masing. Akibatnya, gambaran besar mengenai "pohon keluarga" Walisongo di Indonesia menjadi tidak utuh. Melihat kondisi tersebut, lima tokoh visioner mulai menggagas sebuah wadah komunikasi. Mereka adalah: KH. R. Ilzamuddin (Pamekasan), Br. Yahya (Surabaya, asal Petapan Bangkalan), Sayyid Muhsin (Kalimantan Timur), Gus Farhan (Sumenep), Gus Noer Kholis (Pasuruan) Awalnya, mereka membentuk sebuah komunitas bernama Bani Wali Songo Madura. Menggunakan platform Facebook dan Messenger, komunitas ini menjadi magnet bagi mereka yang merasa memiliki keterikatan darah dengan para wali. Tak disangka, antusiasme masyarakat begitu luar biasa. Pembahasan mengenai nasab tidak lagi terbatas pada wilayah Madura, melainkan meluas ke seluruh Nusantara. Nama komunitas pun berevolusi menjadi Bani Walisongo, yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya lembaga resmi: Naqobah Ansab Auliya’ Tis’ah (NAAT). Momentum Deklarasi: Janji dari Bumi Klampar Tanggal 3 September 2017 menjadi catatan tinta emas. Bertempat di Pondok Pesantren Al-Fatih, Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, NAAT resmi dideklarasikan. Suasana khidmat menyelimuti pertemuan tersebut, di mana 32 tokoh dan perwakilan dzurriyah berkumpul dengan satu tekad: "Menanam, tidak hanya memanen". Prinsip ini bermakna bahwa organisasi ini didirikan dengan landasan keikhlasan tanpa pamrih, semata-mata untuk menjaga amanah nasab bagi generasi mendatang. Para deklarator, menyadari bahwa mencatat nasab adalah bagian dari menjaga marwah sejarah. Visi mereka jelas: menyatukan dan menyambung kembali keluarga besar yang terputus melalui pencatatan kolektif yang komprehensif. Berikut adalah nama-nama Deklarator NAAT antara lain : 1. KH. R Ilzamuddin (Pamekasan) 2. Br. Yahya (Surabaya) 3. Sayyid Muhsin (Kalimantan Timur) 4. Moh. Farhan Muzammily (Sumenep) 5. Ahmad Irfan AW (Sumenep) 6. Gus Nur Holis (Pasuruan) 7. Gus Ach. Muzawwir (Bangkalan) 8. K. Abdul Hamid (Rabeh Pademawu) 9. Moh. Sudi (Bancelok Sampang) 10. Abd. Hamid Mudjib (Sedodol Pasuruan) 11. Junaidi (Balikpapan) 12. Wesil 13. Abd Halim Bahwi (Tlanakan) 14. Faishal Baidhawi (Lawangan Daya Pademawu Pamekasan) 15. Moh. Badri Hatib (Bicorong Pakong pamekasan) 16. Nurul Yaqin (Pasean Pamekasan0 17. Ach. Zahid Anshor (Pasuruan) 18. Mustain (Pasuruan) 19. Nurul Huda (Pasuruan) 20. Abd Haris (Prajjan Camplong Sampang) 21. Muzayyin (Camplong Sampang) 22. Ainun Mukhlisin (Sidoarjo Poto Batuampar) 23. Ahmad Said (Lumajang) 24. Ahmad Khoiri (Lumajang) 25. Mahfudz (Gempol Sidoarjo) 26. Musthofa (Gempol Sidoarjo) 27. Achmad Yasir (Toket Proppo Pamekasan) 28. A. Hamid (Dlembeh Sampang) 29. Miftahul Arifin (Suren Jember) 30. Moh. Hisyam (Sumber Anyar Tlanakan Pamekasan) 31. Ridoi (Surabaya) 32. Kyai Abdul Khobar (Proppo Pamekasan) Legalisasi dan Peran Tokoh Besar Setelah deklarasi, langkah NAAT tidak berhenti. Konsolidasi terus dilakukan di berbagai tingkatan. Momentum besar berikutnya terjadi ketika organisasi ini bertemu dengan para ulama kharismatik, salah satunya adalah Abuya KH. Moh. Hasan Saiful Islam, pengasuh terkemuka Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo. Abuya KH. Moh. Hasan Saiful Islam, bersama tokoh lainnya memberikan dorongan krusial. Beliau menginisiasi agar NAAT segera didaftarkan sebagai organisasi resmi di bawah naungan negara. Gayung bersambut, para deklarator pun bergerak cepat hingga keluarlah Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor AHU-0005731.AH.01.07.TAHUN 2019. Dengan status badan hukum ini, NAAT berdiri tegak sebagai organisasi legal yang diakui kedaulatannya oleh negara. Pelantikan Simbolis di Jejak Syaikhona Kholil Untuk mengukuhkan kepengurusan periode pertama (2020-2025), NAAT memilih lokasi yang sangat simbolis dan sarat akan nilai historis: Halaman belakang Pesarean Syaikhona Kholil, Desa Martajesah, Bangkalan. Pemilihan tempat ini adalah bentuk tabarruk (mencari berkah). Syaikhona Kholil Bangkalan bukan hanya guru dari para pendiri Nahdlatul Ulama, tetapi beliau juga merupakan keturunan langsung dari Walisongo. Di tempat keramat inilah, Abuya KH. Moh. Hasan Saiful Islam resmi dilantik sebagai Rois Syuriyah pertama. Beliau dikenal sebagai sosok ahli hadits yang alim namun humoris, figur yang sangat dicintai santri dan dzurriyah. Sementara itu, amanah Ketua Tanfidziyah diberikan kepada KH. R. Ilzamuddin Sholeh, dan Dr. KH. Syaiful Abdullah dipercaya memimpin Majelis Permusyawaratan NAAT (MAPAN). Struktur ini dilengkapi dengan Br. Yahya sebagai Sekretaris Umum, menciptakan sebuah tim kerja yang solid untuk menjalankan roda organisasi. Inklusivitas: Menghargai Jalur Perempuan Salah satu terobosan penting yang dibawa oleh NAAT dalam sistem pendokumentasiannya adalah sifatnya yang inklusif. Berbeda dengan sistem pencatatan tradisional yang terkadang hanya menitikberatkan pada jalur laki-laki, NAAT berkomitmen untuk memasukkan pencatatan baik dari jalur laki-laki maupun perempuan. NAAT menyadari bahwa banyak jalur keturunan perempuan yang selama ini terabaikan, padahal mereka membawa warisan genetik dan spiritual yang sama berharganya. Dengan pendekatan ini, NAAT berharap dapat menjangkau lebih banyak dzurriyah Walisongo yang selama ini merasa "kehilangan" identitas leluhurnya. Penutup: Warisan untuk Masa Depan Kini, NAAT bukan sekadar organisasi pencatat nama. Ia adalah sebuah gerakan kultural yang bertujuan melestarikan aset berharga bangsa: warisan spiritual Walisongo. Dengan semangat keikhlasan, NAAT terus bergerak mendokumentasikan setiap silsilah agar tidak ada lagi anak cucu Walisongo yang lupa akan jati diri mereka. Sejarah NAAT adalah cerita tentang kerinduan akan persaudaraan. Ia dimulai dari keprihatinan, diperkuat oleh legalitas negara, dan diberkahi oleh doa para ulama. Sebagai organisasi yang terus tumbuh, NAAT mengundang seluruh dzurriyah untuk kembali pulang, menyatukan kepingan sejarah yang terserak, dan bersama-sama menanam kebaikan untuk panen peradaban di masa depan.
Baca SelengkapnyaNAAT berkomitmen untuk menyatukan keluarga besar keturunan Wali Songo yang tersebar di seluruh Nusantara, Asia hingga se Dunia. Kami melakukan penelitian, pencatatan dan pelestarian silsilah secara profesional dengan landasan ilmiah yang kuat.
Menjadi institusi internasional terkemuka dalam pelestarian genealogi dan peradaban Wali Songo sebagai poros perdamaian dunia berlandaskan kasih sayang
Digitalisasi & Validasi Nasab Internasional Membangun sistem basis data silsilah digital yang akurat, saintifik, dan terkoneksi secara global untuk mendata seluruh keturunan Wali Songo dan kerabatnya di berbagai negara. Preservasi Warisan & Manuskrip Tersembunyi Melakukan pencarian, penyelamatan, dan restorasi terhadap manuskrip, benda bersejarah, serta karya seni Wali Songo yang tersebar untuk dikelola secara profesional
Transformasi Manhaj Keilmuan Leluhur Menerjemahkan, mengkaji, dan mensosialisasikan ajaran serta metode dakwah (manhaj) Wali Songo agar tetap relevan sebagai solusi tantangan zaman modern. Penguatan Konektivitas Silaturahim Global Membangun jaringan komunikasi internasional untuk menyatukan potensi dzurriyah yang terserak, mempererat persaudaraan tanpa sekat geografi dan budaya. Standardisasi Dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah
Mengembangkan syiar Islam yang moderat, ramah, dan penuh kasih sayang sesuai tradisi Wali Songo untuk menciptakan perdamaian global. Pemberdayaan Ekonomi & Kesejahteraan Berkelanjutan Membangun ekosistem ekonomi kolektif dan lembaga kemaslahatan untuk menjamin kesejahteraan anggota serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Diplomasi Kemanusiaan & Martabat Manusia Aktif dalam gerakan kemanusiaan internasional guna menjunjung tinggi harkat martabat manusia sesuai ikrar suci pendirian NAAT. Kolaborasi Strategis Lintas Sektor Menjalin kerjasama formal (Ukhuwah Wathoniyah & Basyariyah) dengan pemerintah, lembaga internasional, dan institusi akademik untuk pengembangan peradaban. Kaderisasi & Pengembangan SDM Unggul Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi dzurriyah muda agar menguasai ilmu pengetahuan modern tanpa meninggalkan akar kearifan lokal leluhur.
Ketua Mustasyar
Rois Syuriyah
Ketua Umum NAAT
Sekretaris Jenderal DPP NAAT
Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut
NAAT (Naqobah Ansab Auliya' Tis'ah) adalah organisasi berbadan hukum yang disahkan negara untuk menyatukan dan mendokumentasikan keturunan Wali Songo yang tersebar di seluruh Indonesia.