BANJARBARU II NAAT – Momentum bersejarah menyelimuti pra-acara Peresmian dan Pelantikan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Naqobah ansab auliya tis'ah (NA'AT) Banjar Bakula, Kalimantan Selatan. Bertempat di Banjarbaru pada Jumat malam, 19 Juni 2026, acara diawali dengan ramah tamah hangat antara pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) NA'AT Indonesia dan calon pengurus DPC NA'AT Banjar Bakula.
Suasana keakraban tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah diskusi sejarah yang dinamis dan mencerahkan. Diskusi dibuka dengan pemaparan dari Ketua Umum DPP NA'AT Indonesia, KH. R. Ilzamuddin Sholeh. Beliau memaparkan rekam jejak perjalanan NA'AT dari awal berdiri hingga perkembangannya saat ini. KH. R. Ilzamuddin menegaskan bahwa salah satu fokus utama NA'AT saat ini adalah melakukan pendataan yang valid dan komprehensif terhadap keluarga besar Walisongo, baik yang termasuk dalam jalur zurriyat (keturunan langsung) maupun kerabatnya.
Islamisasi Kalsel dan Kekerabatan dengan Walisongo
Diskusi semakin menarik dan menghangat ketika memasuki sesi pembahasan mengenai proses Islamisasi di Kalimantan Selatan serta kaitannya dengan Kesultanan Banjar sebagai bagian dari keluarga besar Walisongo. Materi pemantik ini disampaikan secara lugas oleh Wakil Ketua Umum DPP NA'AT, Sayyid Muhsin Assyaibani Al Idrisi.
Hadir pula dalam diskusi tersebut perwakilan dari keluarga Kesultanan Banjar, di antaranya Andin Alvi dari Barabai dan Gusti Nordin dari Banjarbaru. Kehadiran mereka memperkuat fakta sejarah bahwa Kesultanan Banjar telah sejak lama bersikap sangat akomodatif dan gigih dalam menyebarkan agama Islam di bumi Lambung Mangkurat, bahkan jauh sebelum adanya kunjungan resmi dari Kerajaan Demak untuk penguatan dakwah.
Menakar Ulang Titik Mula Islamnya Sultan Suriansyah
Salah satu topik paling menarik yang dibedah dalam diskusi ini adalah peninjauan kembali historiografi masuk Islamnya Sultan Suriansyah (Raden Samudera). Selama ini, literatur sejarah umum mencatat bahwa Sultan Suriansyah—raja pertama Banjar yang memeluk Islam—resmi berislam pada 24 September 1526 (6 Zulhijah 932 H). Prosesi tersebut dibimbing oleh Khatib Dayan, seorang ulama utusan Kesultanan Demak yang tiba sejak tahun 1521 sebagai bagian dari komitmen bantuan militer Demak untuk membantu Banjar menghadapi Kerajaan Negara Daha.
Namun, diskusi malam itu melahirkan sebuah perspektif baru yang sangat kuat. Sayyid Muhsin Assyaibani Al Idrisi memaparkan kemungkinan bahwa Sultan Suriansyah sebenarnya sudah memeluk Islam sebelum kedatangan Khatib Dayan. Dalam sudut pandang ini, kehadiran Khatib Dayan yang disebut-sebut sebagai menantu Sunan Gunung Jati versi Kuin tersebut, lebih bertindak sebagai mubaligh yang mengukuhkan (tadzkirah/tatsbit) jalinan keislaman serta struktur pemerintahan Islam di Banjar.
Silsilah Kekerabatan Strategis
Indikasi bahwa Islam sudah berakar di lingkaran inti kerajaan sebelum tahun 1526 didasarkan pada jalur pernikahan dan kekerabatan dengan Sunan Giri (1442–1506). Berdasarkan silsilah kuno, Raja Daha memiliki putra bernama Sunan Serabut (Pangeran Serabut), yang merupakan saudara dari kakek Sultan Suriansyah. Sunan Serabut adalah seorang Muslim dan menikah dengan Nyai Ageng Selo Luhur binti Sunan Giri. Dari jalur Sunan Serabut lahir Pangeran Sukarama, yang kemudian memiliki putri bernama Ratu Sa'adah. Ratu Sa'adah inilah yang dinikahi oleh Sultan Suriansyah. Dengan demikian, Sultan Suriansyah sejatinya menikah dengan sepupu dua kalinya yang sudah berada dalam pusaran keluarga Muslim trah Sunan Giri. jadi Sunan serabut adalah santri Sunan giri sekaligus menantu.
Kesimpulan dan Komitmen Bersama
Kendati di tegaskan bahwa DPP NAAT pada tahun 2020 pernah mengkonfirmasi terkait keluarga besar kesultanan Banjar sebagai bagian keluarga besar Walisongo dari giri Kedaton dengan sultan Khoirul Sholeh, maka melalui bedah silsilah dan data ini, diskusi menyimpulkan bahwa Islamisasi di Kalimantan Selatan tidak terjadi secara mendadak secara politis semata, melainkan melalui jalinan kekeluargaan yang erat dengan poros Walisongo di Jawa. Maka sebagai penyempurna kesimpulan diskusi ini masih memungkinkan membuka ruang kembali perspektif yang berbda dan menyempurnakan dengan rujukan manuskrip yang nyata tentunya.
Diskusi yang berlangsung hingga larut malam ini ditutup dengan kesepahaman bersama untuk terus menggali, mendata, dan meluruskan sejarah lokal demi menjaga marwah serta menyambung kembali silaturahmi zurriyat dan kerabat Walisongo di tanah Banjar. Acara ini menjadi pembuka yang khidmat menuju pelantikan resmi pengurus DPC NA'AT Banjar Bakula keesokan harinya. (SB & MHS)