JAKARTA II SEKRETARIAT NAAT -- Diskursus mengenai asal-usul dan genealogi tokoh-tokoh awal penyebar Islam di Nusantara, khususnya Syaikh Jumadil Kubra dan Maulana Malik Ibrahim, kembali mengemuka dalam perbincangan lintas negara antara peneliti Indonesia dan Malaysia. Perdebatan ini tidak sekadar menyentuh aspek nasab, tetapi juga membuka kembali jalur historis penyebaran Islam dari Asia Tengah menuju Asia Tenggara.

Akar Samarqand dan Jaringan Saghorji

Sejumlah sumber menyebut bahwa Syaikh Jumadil Kubra lahir di Samarkand sekitar tahun 1349. Ia diyakini merupakan keturunan dari Syaikhzoda Abu Said bin Syaikh Burhanuddin Saghorji, seorang tokoh sufi pengembara yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam ke India, Cina, dan Asia Timur.

Syaikh Burhanuddin Saghorji dikenal sebagai murid dari jaringan tarekat besar, yakni Tarekat Suhrawardiyya. Ia diutus untuk berdakwah ke wilayah Timur, bahkan disebut berhasil mengislamkan seorang raja dan menikahi putrinya. Dari pernikahan ini lahirlah Syaikhzoda Abu Said, yang kemudian menjadi tokoh penting di lingkungan kekuasaan Timur Lenk.

Ekspansi Dakwah Keturunan Saghorji

Pada abad ke-14 hingga 15, keturunan Saghorji, termasuk keluarga besar Syaikhzoda Abu Said, mulai melakukan migrasi dakwah ke wilayah Asia Tenggara. Salah satu tokoh penting dalam gelombang ini adalah Maulana Malik Ibrahim, yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai pelopor dakwah Islam di tanah Jawa.

Namun demikian, muncul pertanyaan kritis terkait identitas “Ibrahim as-Samarqandi” dalam sejumlah manuskrip lokal. Apakah ia identik dengan leluhur Maulana Malik Ibrahim, ataukah merupakan tokoh lain yang masih berada dalam jaringan keturunan Saghorji?

Kontroversi Genealogi: Jawa vs Kelantan

Perbedaan data semakin terlihat ketika membandingkan sumber Nusantara dengan tradisi dari Kelantan. Dalam beberapa riwayat Kelantan, Maulana Malik Ibrahim disebut sebagai putra dari Sayyid Barakat Zainal Alam bin Syaikh Jumadil Kubra. Namun, sumber ini diakui belum mencapai derajat primer dan masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Sementara itu, dalam tradisi Jawa, tokoh yang sering muncul adalah “Ibrahim Asmoro” yang disebut sebagai putra Zainul Husain. Hal ini menimbulkan kemungkinan adanya dua jalur narasi: satu berbasis tradisi lokal Jawa, dan satu lagi berbasis tradisi Melayu-Kelantan dan Sumatera.

Jejak Nusantara: Aceh, Pagaruyung, dan Jawa

Menariknya, jejak Maulana Malik Ibrahim tidak hanya ditemukan di Jawa, tetapi juga di wilayah Aceh dan Pagaruyung. Dalam tradisi Pagaruyung, ia dikenal sebagai “Syaikh Makhdum” yang memiliki banyak keturunan.

Narasi lain menyebut bahwa nenek Maulana Malik Ibrahim adalah seorang putri dari Kerajaan Chermin di Kelantan, yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Kesultanan Samudera Pasai. Hal ini menjelaskan kesamaan batu nisan antara makam di Gresik dengan tipe nisan Aceh, yang menunjukkan adanya jaringan kultural dan genealogis yang kuat.

Perjalanan dakwahnya pun diduga melalui jalur: Chermin – Jeddah – Aceh – Pagaruyung – Jawa, sebelum akhirnya menetap dan berdakwah di Gresik.

Pertanyaan Kunci Historis

Diskusi ini mengerucut pada beberapa pertanyaan penting:

Siapakah sebenarnya “Ibrahim as-Samarqandi” dalam manuskrip lokal?

Apakah ia bagian dari garis keturunan Saghorji, atau tokoh berbeda?

Bagaimana hubungan antara Ibrahim Asmoro, Malik Ibrahim, dan Zainul Husain?

Sejauh mana validitas sumber Kelantan dibandingkan dengan tradisi Jawa dan Sumatera?

Selain itu, secara kronologis, jika cucu-cucu Syaikh Burhanuddin Saghorji hidup pada masa Kekuasaan Timur Lenk, maka penting untuk memastikan apakah kemunculan Ibrahim as-Samarqandi di Jawa berada dalam rentang waktu yang sama.

Penutup: Urgensi Kajian Interdisipliner

Perdebatan ini menunjukkan bahwa sejarah Islam Nusantara tidak dapat dipahami secara parsial. Diperlukan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan filologi manuskrip, sejarah, arkeologi (terutama studi nisan), serta kajian nasab yang komprehensif.

Lebih dari itu, diskursus ini bukan sekadar mencari “siapa anak siapa”, tetapi memahami bagaimana jaringan ulama global dari Samarkand mampu membentuk peradaban Islam di Asia Tenggara.

Dengan demikian, penelitian lanjutan yang lebih sistematis dan kolaboratif antara peneliti Indonesia, Malaysia, dan dunia Islam menjadi kebutuhan mendesak, agar sejarah besar ini tidak terfragmentasi, tetapi justru menjadi narasi utuh peradaban. (SBH & YHY)