TEAMANGGUNG JAWA TENGAH II BAKORDA NAAT -- TanggaL 2 Syawal 1245 H atau 28 Maret 1830, Adalah sebuah anomali sejarah yang akan terus dikenang bangsa Indonesia. Sultan Abdul Hamid Amirul Mukminin Sayyidin Panatagama Kalifaturrasul ing Tanah Jawi alias Raden Mas Antawirya alias Bendara Raden Mas Mustahar Atau lebih mashur dengan gelar Pangeran Diponegoro Putra sulung Hamengkubuwana III yang memimpin perang suci bertajuk Perang Jawi (1825-1830) Atas saran dari Habib Ibrahim Ba'abud Ba'alwi Menghadiri undangan gubernur Jendral V. De Kock atas nama Iedul Fitri & perundingan damai.

Jendral De Kock mengutus Kolonel Jan Baptist Cleerens sebagai perwakilan pihak Tentara Belanda, kemudian menghubungi pihak Pangeran Diponegoro. Jan Cleerens tahu bahwa Diponegoro adalah seorang muslim yg taat,

maka ia menggunakan siasat untuk menghubungi seorang pemuka agama, dalam hal ini adalah Habib Ibrahim Ba'abud Ba'alwi, yang kemudian membujuk Pangeran Diponegoro untuk menghadiri undangan tersebut di Magelang Jawa Tengah.

Turut serta bersama Pangeran Diponegoro adalah Diponegoro Moeda (putra Pangeran Diponegoro), Panglima Basya Mertanegara, dan Habib Ibrahim Ba'abud. Yang kemudian Habib Ibrahim Ba'abud membujuk Pangeran Diponegoro agar menyetujui perundingan tanpa perlawanan agar cepat selesai dan terlaksana tanpa pertumpahan darah. Pangeran Diponegoro sangat geram dengan keputusan tersebut, dimana kunjungan yang diatas namakan silaturahmi Idul Fitri dan perdamaian, ternyata berujung penghianatan untuk menjebak dan menangkap dirinya.

Sebuah anomali sejarah dimana perjuangan suci membela tanah air dan rakyat Indonesia, harus padam oleh penghianatan di hari yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan dan keberkahan. Dengan peristiwa tersebut, berakhir pula jihad panjang yang dilakukan selama 5 tahun, sebuah perlawanan yang berhasil menguras sumber daya & finansial penjajah secara drastis, yang melemahkan penjajahan di bumi pertiwi.

Perang Jawi dinyatakan berakhir pada tanggal 2 Syawal

Peristiwa itu kemudian diabadikan dalam bentuk lukisan karya Raden Saleh (1957)

Atas respon dari lukisan karya Nicolas Pineman yang menggambarkan bahwa Pangeran Diponegoro menyerah.


Ditulis oleh:

Suprayitno Wibowo

(Anggota Badan Khusus NAAT Pusat & Ketua DPC NAAT Temanggung)

(Pengurus LD PCNU Kab.Temanggung)


Sumber:

- Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

- Laporan Jendral V. De Cock tentang penangkapan Diponegoro.

- Surat perintah De Kock kepada J.Cleerens.

- Arsip Keraton Ngayogyakarta Hadingingrat.

- Data primer NAAT wilayah Kedu.